oleh

Jaga Komentar di Media Sosial, Hindari Singgung SARA, Gender, dan Disabilitas

ZONASULSEL.COM WAJO | 8 September 2021 – Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada 8 September 2021 di Wajo, Sulawesi Selatan. Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi. Adapun tema saat ini yang dibahas adalah “Mari Berbahasa yang Benar dan Beretika di Ruang Digital”.

Webinar kali ini dipandu oleh Arie Mega sebagai moderator dengan menghadirkan empat orang narasumber, yaitu dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Teknologi Yogyakarta dan anggota Japelidi, Ade Irma Sukmawati; Fellow Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan CNCS dan UGM, Rahman Mantu; dosen KPI UIN Alauddin Makassar, Jalaluddin; serta pemengaruh (influencer), Andi Bau Senja Marlia Bellina. Webinar ini diikuti sebanyak 1182 peserta dari berbagai kalangan umur dan profesi. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan 57.550 orang peserta

Acara dimulai dengan sambutan berupa video dari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang menyalurkan semangat literasi digital untuk kemajuan bangsa. “Infrastruktur digital tidak berdiri sendiri. Jadi, saat jaringan internet sudah tersedia, harus diikuti dengan kesiapan-kesiapan pengguna internetnya agar manfaat positif internet dapat dioptimalkan untuk membuat masyarakat semakin cerdas dan produktif,” kata Presiden. 

Pemateri pertama, Ade Irma Sukmawati, menyampaikan tema “Partisipasi Baik dalam Ruang Digital”. Menurut dia, warganet dapat memanfaatkan aplikasi dan sejumlah fitur untuk mengecek kebenaran informasi yang beredar di media sosial. Misalnya, komin.fo/inihoaks, turnbackhoax.id, cekfakta.com, hoaks.infovaksin.id, atau melalui pesan ke nomor 085921600500 dan 08119787670. “Selalu baca sebelum membagikan, cek fakta, serta pikirkan apakah penting dan manfaatkah konten ini bila dibagikan,”  katanya. 

Selanjutnya, Rahman Mantu menyampaikan paparan berjudul “Etika Digital dan Praktik Hate Speech dalam Komunikasi Virtual”. Ia mengatakan bahwa dalam kebebasan berekspresi di media sosial, terdapat tata nilai dan norma. Etika tersebut diperlukan karena pengguna internet berasal dari berbagai latar belakang, serta komunikasi berbentuk teks memungkinkan interpretasi yang berbeda-beda. “Etika berinternet diperlukan agar setiap pengguna memahami hak dan kewajibannya,” imbuh dia. 

Pemateri ketiga, Jalaluddin, memaparkan materi bertema “Memahami Batasan dalam Kebebasan Berekspresi di Dunia Maya”. Menurut dia, masyarakat Indonesia sejatinya dikenal dengan sifat kesopanan dan saling menghormati. Adapun hal-hal yang tidak patut disinggung dalam berpendapat di media sosial adalah terkait SARA, gender, serta penghinaan terhadap penyandang disabilitas. “Selain aspek hukum, dampak berbicara seenaknya di dunia maya dapat dilihat dari sisi sosiologis, yakni menimbulkan kebencian, bullyin, dan disintegrasi,” jelasnya. 

Andi Bau Senja Marlia Bellina, sebagai narasumber terakhir, menyampaikan paparan berjudul “Dunia Maya dan Rekam Jejak Digital”. Ia mengatakan, selain membekas pada perangkat yang digunakan warganet, jejak digital juga turut terekam pada server perusahaan internet. Bahkan, jejak digital tersebut kerap dapat mendeskripsikan identitas seseorang dan menjadi pertimbangan dalam perekrutan karyawan. “Bijak bermedia sosial merupakan salah satu yang wajib dilakukan agar tidak meninggalkan jejak digital yang buruk,” ujar dia. 

Selanjutnya, moderator memandu sesi tanya jawab yang disambut antusias oleh para peserta. Panitia memberikan uang elektronik senilai Rp100.000 bagi 10  penanya terpilih. Webinar literasi digital ini mendapat apresiasi dan dukungan dari banyak pihak karena menyajikan konten dan informasi yang baru, unik, dan mengedukasi para peserta. 

Salah seorang peserta, Donnie Firami, bertanya tentang banyaknya opini yang mengarah kepada ujaran kebencian. Menanggapi hal tersebut, narasumber mengatakan bahwa penyampaian bahasa di media sosial yang mengandung moralitas perlu diperhatikan. Namun, emosi warganet yang tak terkendali terkadang menjadi blunder di dunia maya.  

Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai dari Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan materi yang informatif yang disampaikan narasumber terpercaya. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed