Catatan Pinggir dari Hamparan Karpet Biru Berlogao Pemkab Maros

Oleh: IRIANTO AMAMA

ZONASULSEL.COM, MAROS ||Logo atau bendera adalah merupakan lambang. Identitas sebuah negara atau perkumpulan. Sebuah maha karya yang lahir dan tercipta dari imajinasi dari pemikiran sehat, bersih, suci yang menyatukan sebuah karya untuk mendapatkan pengakuan dari sekumpulan masyarakat sebagai identitas diri. Dan, menyatunya keanekaragaman budaya dan adat istiadat suatu daerah.

Baca Juga Sejahterakan Masyarakat Kawasan Geopark Maros – Pangkep, Pj Gubenur Sulsel Tanam Sukun

Ketika sebuah logo atau bendera terbentuk dan diakui, maka semua orang yang ada di dalamnya harus menghormatinya. Menjaganya. Dan, menjunjung tinggi nilai-nilai dalam kebersamaan, bahwa logo dan bendera itu adalah identitas diri suatu negara atau daerah. Sehingga logo atau bendera harus berada di tempat yang terhormat. Paling tinggi di antara lebel-label lainnya. Bukan berada di bawah. Apalagi berada di bawah telapak kaki. Jangan sampai terinjak-injak hanya karena ego yang berlebihan. Jika ini terjadi, maka tunggulah runtuhnya tiang penyanggah.

Kembali ke soal logo. Saya terkesima bercampur haru ketika membaca sebuah berita dikutip dari Tribun Timur.Com yang berjudul,”

Wow Pemkab Maros Beli Karpet Biru 18 X 22 Meter Seharga Rp600 Juta. Dan, di atas karpet biru itu ada logo Pemda Kabupaten Maros”. Kamis, 28 Desember 2023.

Pada bagian tubuh berita itu tertulis, Karpet akan dipasang di ruang pola kantor bupati Maros.
Karpet dibeli berwarna biru dengan logo Pemkab Maros di depan panggung.

Namun pembelian karpet ini sedikit disesalkan karena masang logo Pemkab Maros. Logo Pemkab Maros kemungkinan akan diinjak jika ada kegiatan di ruang pola.

Namun entengnya, Kepala Dinas PUTRPP Maros, Moetazim Mansyur mengatakan, pihaknya telah berdiskusi dengan bagian protokol sebelum membeli karpet.

‘”Saya sudah koordinasi dengan bagian protokol, namun tidak ada permasalahan,” katanya.

Ia pun menjamin logo Pemkab Maros tak akan diinjak jika ada kegiatan di ruang pola.

“Nanti kalau ada acara kan ada pengaturan kursinya. Menurut kami justru ada estetika di dalamnya,” tegasnya.

Aneh. Pernahkah terlintas di benak seorang Moetazim Mansyur, pejabat eselon 2 yang dilantik oleh seorang bupati bahwa logo itu merupakan sesuatu yang sakral yang harus dijaga dan dihormati keberadaannya? Pernahkah seorang Moetazim berfikir bahwa lahirnya sebuah logo harus dibayar mahal karena melahirkan nilai-nilai tulus dari pencetusnya?

Jika saja masih ada secuil buah pikiran dari seorang Moestazim, tidak akan berucap, logo Pemda Maros itu tidak akan terinjak apabila ada kegiatan di ruang pola. Justru keberadaan logo yang berada di bawah digambarkan ada estetika (keindahan). Masya Allah.

Sebegitu kerdil kah cara pandang seorang Moetazim. Hanya dengan mengatur posisi kursi sehingga Logo Pemda itu tidak terinjak. Ya. Itu kalau jumlah yang hadir hanya bisa dihitung jari. Lantas bagaimana jika sebaliknya. Apakah seorang yang tidak sengaja menginjaknya kemudian harus diperintahkan untuk bergeser dari posisi Logo itu?
Seperti diketahui, ruang pola seringkali dijadikan sebagai tempat pelantikan dan juga kegiatan besar lainnya.
APKAN RI Kabupaten Maros sangat menyayangkan logo Pemkab Maros yang seharusnya dipasang di tempat yang lebih terhormat. Sekarang di pasang di lantai dan kemungkinan besar akan diinjak saat ada kegiatan di ruang pola tersebut.

Kondisi seperti ini dapat dihindari dengan lebih teliti dalam memilih tempat dan cara memasang logo atau simbol identitas yang dimiliki oleh sebuah kelompok atau negara. Hal ini juga penting agar masyarakat dapat memahami pentingnya menjunjung tinggi simbol identitas tersebut dan menjaganya dengan baik. Terlebih lagi jika tempat yang akan dijadikan tempat umum seperti ruang pola yang sering digunakan untuk kegiatan besar atau penting.(***)