“Butir-butir Keringat Diantara Bongkahan Batu”
Oleh: Irianto Amama
Suatu hari, dengan berkendara roda dua saya menelusuri jalan poros menuju salah satu desa di Kabupaten Maros. Di kiri – kanan jalan itu nampak bebukitan yang berdiri kokoh. Di atas bebukitan itu tumbuh subur berbagai jenis tanaman fauna dan pohon yang daunnya rindang, seakan- akan menaungi mahluk yang lewat di bawahnya.
Panorama alamnya indah. Hawanya sejuk. Kicauan burung saling bersiutan seakan-akan menyambut kehadiran saya di desa itu. Sebutlah, Desa Baruga. Yang artinya, sebuah tempat untuk kumpul – kumpul dimana masyarakat setempat menyampaikan aspirasinya atau disebut juga rumah (kampung) persinggahan. Saya merasa takjub melihat pemandangan bukit yang hijau itu. Suasananya tenang. Yang terdengar hanya suara gemercik air yang mengalir dicela bebatuan.
Jalan yang tak berujung itu, saya telusuri hingga sampai ke kaki bukit. Saya mendekat. Nampak, sebuah pemandangan yang memilukan. Sebuah rumah panggung beratap sirat, berdinding gamacca (anyaman dari bambu) dan kain sobek menghiasi lubang dinding yang sebagian tiangnya sudah rapuh. Dan, di bawah rumah itu sosok perempuan tua, sebutlah namanya Saleha yang ubanan. Usianya, 60-an tahun dengan palu kecil di tangan sibuk memecah bongkahan batu. Pemandangan seperti itu hanya sebagian kecil. Sebuah potret kehidupan dari desa yang jauh dari kesibukan kota.
Saya mendekat sambil bertanya, ” Ma! Mau diapakan pecahan batu itu? Ma Saleha langsung menatap ku kemudian menjawab: ” Batu itu saya kumpulkan untuk dijual. Dalam seminggu biasanya ada yang datang membeli. Harganya, cukup untuk makan,” ujarnya lirih tanpa menyebutkan nilai rupiahnya.
Saya terkesima mendengar penuturan Ma Saleha. Saya memandang wajah Ma Saleh. Nampak, butir-butir keringatnya menetes membasahi pipinya yang nampak keriput dimakan usia.
Setiap tetesan keringat di atas bongkahan batu ada harapan untuk hidup bersama keluarga.
Melihat kehidupan Ma Saleha, hatiku bergumam. Masihkah ada orang diantara kita yang peduli dengan kehidupan Ma Saleha? Sejak itu, aku berusaha mencari dan terus mencari orang yang masih punya hati nurani. Peduli dengan kerasnya kehidupan yang dialami Ma Saleha.
Pada akhirnya, saya dipertemukan sosok yang peduli dan berniat membuat kehidupan baru dalam kawasan rumah tempat tinggal Ma Saleha. Meski pun rencana itu mustahil bisa terwujud, namun dengan ikhlas dan tulus, saya terus berjalan dan berusaha untuk menemukan orang yang masih peduli tentang kehidupan yang dialami sosok Ma Saleha. Dengan niat mulia untuk dapat memperbaiki kehidupan warga setempat dan sekitarnya.
Inilah yang menginpirasi saya bersama dengan teman lainnya yang saya sebut “For in One” untuk memulai usaha, meski pun secara manual memecah bongkahan batu seperti yang dilakukan oleh Ma Saleha bersama dengan warga lainnya.
Waktu terus berjalan. Ada asa. Sebuah harapan nampak di wajah para pemecah batu, meski hanya dengan menggunakan palu seberat 3 – 5 Kg dan alat lainnya. Mereka bekerja. Tak peduli panasnya terik matahari yang menerpa wajah dan tubuh mereka. Itulah cara mereka, para pemecah batu untuk dapat menghidupi keluarga.
Seiring berjalannya waktu, kami diperhadapkan dengan berbagai masalah. Sorotan datang silih berganti. Kami dianggap menyalahi aturan. Dan kami akui, dan tetap menunggu bahwa suatu saat pemerintah akan memberi kelonggaran dan mempermudah usaha yang kami rintis demi warga setempat yang dapat hidup layak seperti warga lainnya. (*)







